Beginikah Generasi Pemuda Penerus Bangsa?


Ya, hanya dengan membaca judul di atas kita tahu ke mana arah dari tulisan ini, yaitu tak lain dan tak bukan adalah kebobrokan pemuda-pemudi jaman sekarang. Tidak hanya dalam segi moral, namun juga sudah merambah ke dalam segi gaya hidup dan jalan pikiran. Tidak hanya dalam segi penampilan, namun juga sudah merambah ke segi bahasa dan tingkah laku sehari- hari.

Pemuda sekarang bobrok dalam segi moral. Mari kita lihat sejenak tingkah laku pemuda-pemudi jaman sekarang, terlebih yang hidup di kota besar. Mereka sudah lupa apa itu sopan santun, apa itu adab, dan terlebih apa itu hormat pada orang yang lebih tua. Sebagai contoh, pada jaman sekarang Anda akan jarang sekali menemukan pemuda yang mengucapkan “Permisi” saat melintas di depan orang lain, bahkan mungkin jika Anda tidak beruntung Anda tidak pernah bertemu dengan pemuda yang mengucapkan kata permisi saat melintas di depan Anda. Terkadang malah, jika Anda sedang duduk di tanah atau dalam bahasa Jawa disebut lesehan, dan ada seorang pemuda melintas di depan Anda dengan jarak yang sangat dekat, bukan tidak mungkin pemuda tersebut pura-pura tidak melihat Anda dan berjalan sambil lalu. Pemandangan seperti ini sudah merupakan hal yang wajar di kota-kota besar, walaupun di kota kecil dan daerah-daerah kebanyakan pemudanya masih menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun. Dan lucunya lagi, saat ada pemuda dari daerah merantau ke kota besar, dan masih mempunyai tata krama, saat dia melewati segerombolan bapak-bapak dan mengucapkan permisi, bapak-bapak tersebut malah terlihat pongah dan terkejut. Mungkin bapak-bapak tersebut kaget karena seumur-umur belum ada yang berperilaku seperti itu di kawasan dia tinggal.

Lalu apa penyebab dari krisis moral yang dialami para pemuda Indonesia jaman sekarang? Salah satu penyebab utama adalah masuknya budaya barat yang liberal, ditambah lagi pola hidup barat juga banyak disiarkan di televisi dalam bentuk sinetron dan sejenisnya. Ini membuat para pemuda berpikir bahwa budaya barat lebih baik dari budaya sendiri, sehingga nilai-nilai tradisional ketimuran yang menjunjung tinggi sopan santun menjadi terkikis dan digantikan oleh budaya barat yang cuek. Yang tidak kalah lagi adalah dalam segi penampilan yang juga mengikuti budaya barat, sehingga penampilan pemudi jaman sekarang sangat memprihatinkan. Ke mana-mana hanya memakai hotpants dan tanktop, tidak mempedulikan bahwa dengan berpakaian seperti itu mereka merendahkan diri sendiri bahkan mengundang kejahatan dan pelecehan seksual.

Pergaulan bebas juga merupakan budaya barat yang sudah mulai mendarah daging pada pemuda jaman sekarang. Lihat saja, berapa banyak pemuda-pemudi yang sudah tidak perawan/ perjaka. Bahkan di kota Yogyakarta tingkat ketidakperawanan sudah menembus angka 90%1. Dan juga di Surabaya yang terkenal lokalisasinya beserta Jakarta dengan gaya hidup bebasnya, para pemuda sudah banyak sekali yang melakukan hubungan suami-istri tanpa nikah. Yang lebih miris lagi di kalangan pemuda sudah menyebar anggapan bahwa pemuda-pemudi yang masih perawan/perjaka itu tidak gaul dan tidak laku. Lihatlah betapa rusaknya moral para pemuda yang beranggapan bahwa cinta monyet mereka kualitasnya diukur dari seksualitas. Ini terjadi karena pengaruh televisi yang negatif dan juga yang lebih penting adalah pengaruh lingkungan. Bagaimana mungkin seorang pemuda tidak menjadi rusak moralnya jika lingkungannya mendukung rusaknya moral tersebut. Jika pun ada, maka masih bisa dihitung dengan jari. Maka dari itu orang tua hendaknya menasehati anak-anaknya semenjak masih kecil untuk bisa memilih lingkungan tempat dia bergaul dengan cerdas.

Satu lagi fenomena remaja yang sedang marak sekarang adalah fenomena BB (BlackBerry) dan fenomena galau. Ya, jaman sekarang ini pemuda yang tidak menggunakan BB sebagai HP (handphone) mereka dikatakan tidak gaul, tidak layak untuk diajak berteman, dan sebagainya. Sehingga pemuda mempunyai pandangan bahwa BB adaah suatu kebutuhan wajib untuk tetap bergaul dan eksis, dan menjadi suatu tolak ukur dalam pergaulan. Lebih-lebih sekarang banyak sekali ditemui pemuda yang marah bahkan sampai mengancam orangtuanya karena tidak dibelikan BB. Fenomena ini menunjukkan betapa lemahnya mental kebanyakan pemuda di Indonesia karena masih banyak juga pemuda yang tidak terpengaruh oleh fenomena ini. Mental ikut-ikut inilah yang akhirnya sekarang berujung pada fenomena galau. Dimana dapat kita temui di jejaring sosial dan kehidupan sehari-hari bahwa apa pun kondisi mereka, mereka selalu mengucapkan jika mereka sedang galau. Tidak punya pacar galau, nilai jelek sedikit galau, cinta (monyet) ditolak galau, semua-semua galau. Lalu kebanyakan dari mereka akibat galau mendadak suka marah-marah dengan alasan kegalauan mereka itu. Padahal kebanyakan dari mereka yang hobi galau itu berasal dari kalangan yang berada. Entah apa yang ada di pikiran mereka, makan saja enak, baju bagus-bagus, kendaraan punya, orangtua lengkap, namun masih galau yang kebanyakan disebabkan oleh masalah asmara yang fana. Tidakkah mereka malu jika orang yang kurang mampu saja masih bisa tersenyum bahagia dan memandang hidup secara positif, sedangkan para pemuda galau tersandung masalah sedikit saja sudah merasa menjadi orang paling susah sedunia. Tidakkah mereka (atau kalian mungkin) yang hobi galau berpikir bahwa hidup itu adalah sebuah perjuangan, sebuah anugerah, dan sebuah kebahagiaan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita. Bukankah kita sebaiknya selalu bersyukur sejelek apapun keadaan kita? Kita selalu bermimpi bahwa kelak Indonesia akan menjadi Negara maju, tapi bagaimana mungkin itu terjadi jika generasi penerus bangsanya saja selalu sibuk galau.

Bahkan sekarang pemuda Indonesia jaman sekarang sudah mulai merasa malu jika berbicara menggunakan bahasa daerah mereka sendiri. Mereka berpikir bahwa berbicara bahasa daerah itu kampungan dan tidak elit. Ironisnya pemuda jaman sekarang kebanyakan tidak mengerti bahasa daerah mereka sendiri, dan malah mempelajari bahasa Negara lain seperti Jepang, Perancis, Inggris, dan lain-lain, yang mereka anggap keren dan tidak kampungan. Dan kebanyakan dari mereka di jejaring sosial sering update status menggunakan bahasa asing padahal mereka sendiri mengetahui bahasa tersebut dari program translator.

Maka dari itu, marilah kita mulai membiasakan kembali berperilaku menurut tata karma yang ada dengan menjunjung tinggi sopan santun. Dan memerangi pergaulan bebas dengan cara tentu saja dengan tidak melakukannya. Berusaha berbeda dari lingkungan kita secara positif, sehingga akan menarik yang lain agar berperilaku dan bermoral lebih baik lagi. Mulai menumbuhkan lagi rasa bangga terhadap daerah kita, terhadap Negara kita Indonesia, sehingga tidak ada lagi yang namanya malu terhadap budaya sendiri, yang nanti efeknya akan meningkatkan nasionalisme kita. Demi anak cucu kita, bangsa dan Negara kita tercinta, Indonesia.

Ditulis oleh M. Bagus Oka G.W.

1=http://forum.detik.com/astaga-66-persen-remaja-indonesia-tak-perawan-lagi-t213842p4.html

Categories: Refleksi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Monggo komentarnya mas, mbakyu :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: