Intelektual dan Nasionalisme


“walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku, disanalahku rasa senang. Tanahku yang kucintai engkau kuhargai”

(Tanah Airku – Ibu Soed)

 

            Lagu yang diciptakan Ibu Soed beberapa dekade silam tampaknya kini harus benar-benar dikaji ulang bagi para anak bangsa yang melanjutkan studi di luar negeri. Apakah benar tanah air yang dibahasakan Ibu Soed sebagai kampung dan rumahku ini masih terasa lebih membahagiakan dibandingkan dengan negeri Paman Sam atau negeri sakura? Ataukah rasa rindu tanah air hanya sekedar menjadi pemanis cerita perjalanan hidup semata?

            Melanjutkan studi di luar negeri mungkin adalah impian, terlebih lagi jika mendapat beasiswa, hal itu seperti dream comes true bagi para pelajar yang haus akan ilmu dan pengetahuan. Tawaran beasiswa seperti itu pun tidak sedikit jumlahnya, banyak negara luar seperti Jerman, Perancis dan Australia yang menawarkan banyak beasiswa bagi pelajar berprestasi di negara-negara berkembang. Pemerintah Indonesia pun sudah dan banyak mengadakan kerjasama dengan pemerintah negara lain dalam pengembangan pelajar di negaranya masing-masing. Seperti pada beberapa tahun terakhir, hubungan kerjasama di bidang pendidikan antara Australia dan Indonesia yang mendapat dukungan baik dari pejabat pemerintahan ditandai dengan diadakannya penandatanganan MoU pada November 2008 di gedung Parliament, Canberra, pada saat acara pertemuan Australia-Indonesia Ministerial Forum (AIMF) ke-9 oleh Menteri Pendidikan Australia, Ms. Jullia Gillard dan Indonesia, Bapak Bambang Sudibyo yang bertujuan untuk memfasilitasi dan memperkuat hubungan kerjasama pendidikan antar kedua negara[1]. Hal ini merupakan berita baik bagi kemajuan pendidikan di Indonesia, karena iklim bagus sudah menghampiri dunia pendidikan Indonesia. Namun yang ditakutkan adalah ketika realita yang ada tidak sesuai dengan apa yang telah diekspetasikan sebelumnya.

            Sekarang ini banyak anak bangsa yang menyelesaikan studi dan menjadi alumni luar negeri namun lebih memilih untuk bekerja di luar negeri dan tidak kembali ke tanah air. Banyak alasan yang menyebabkan hal ini terjadi, alasan yang paling dominan dan menentukan adalah ekonomi. Menyelidik realita ini, sebenarnya sangatlah wajar jika tidak kembali ke Indonesia yang menjadi pilihan mereka. Kondisi kehidupan di luar negeri yang memiliki keteraturan dalam keseharian yang dilengkapi dengan fasilitas sangat memadai, lapangan pekerjaan yang berlimpah dan sesuai dengan bidang advanced studi serta gaji yang sangat memuaskan, semuanya bertolak belakang dengan apa yang terjadi di tanah air seperti keseremawutan dalam aktivitas keseharian, fasilitas umum yang buruk, lapangan pekerjaan dan gaji yang tidak memuaskan, dan alasan lain hingga berujung pada pemerintah yang tidak bisa diandalkan. Namun kini pertanyaannya adalah seberapa besar rasa nasionalisme yang dimiliki anak bangsa terdidik?

            Hal ini sebenarnya bukanlah masalah baru, bahkan realita ini cenderung sudah mulai terlupakan. Padahal realita tidak kembalinya para alumni luar negeri sangat berkaitan sekali dengan rasa nasionalisme, yang seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Indonesia. Sebenarnya pemerintah Indonesia bukannya tidak bisa memperbaiki sistem yang ada, tapi lebih terkesan tidak peduli. Akan sangat egois sekali bila masalah dijadikan alasan untuk tidak kembali ke Indonesia dan memilih tinggal di negeri orang. Mereka seakan mau melarikan diri dari persoalan yang ada di tanah air. Mengapa mereka tidak kembali ke Indonesia, membangun Indonesia dengan ilmu yang sudah dipelajari, bukannya membangun negara orang, serta terus mengeluh dengan kondisi Indonesia sekarang? Dimana rasa nasionalisme mereka?[2]

                 Rasa nasionalisme seorang warga negara sebenarnya bukan hanya dinilai dari dimana mereka tinggal, menempuh pendidikan atau bekerja. Banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang merasa lebih nasionalis ketika mereka berada di negeri orang. Memperkenalkan kebudayaan Indonesia seperti tarian tradisional dari daerah masing-masing, kain batik sampai hari-hari nasional Indonesia dengan bangga kepada orang-orang sekitar disana yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah dilakukan jika di Indonesia. Ada sebuah cerita mengenai warga negara Indonesia keturunan tionghoa yang menempuh studi di luar negeri. Secara penampilan keturunan tionghoa memang tidak seperti kebanyakan warga Indonesia ras pribumi lainnya yang berkulit sawo matang dan memiliki mata besar, banyak orang cenderung mengira bahwa mereka berkebangsaan China atau Korea tapi dengan bangga mereka mengatakan “we are from Indonesia”. Dari cerita ini dapat kita lihat bagaimana rasa cinta terhadap tanah air Indonesia dan jiwa nasionalis muncul dan tumbuh dengan sendirinya dalam kondisi individu manapapun. Namun cerita nasionalisme anak negeri di negeri orang tak berhenti sampai disitu, pernah terdengar kabar bahwa pelajar Indonesia di luar negeri agak malu untuk mengakui bahwa ia berkewarganegaraan Indonesia karena citra Indonesia di luar negeri yang sangat terkenal dengan negara terkorup. Kembali dipertanyakan dimana jiwa nasionalisme anak negeri terdidik?

            Fakta sangat membahagiakan sekaligus membanggakan adalah kenyataannya pelajar Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri bukanlah pelajar yang tidak mampu bersaing di dunia pendidikan global. Banyak prestasi prestigious dari pelajar Indonesia seperti yang berhasil diraih oleh dua ilmuan asal Indonesia, Kadarusman dan Hananto Prakoso yang sedang menempuh pendidikan doctoral di Perancis. Mereka menerima Mahar Schutzenberger Award 2011 dari AFIDES Foundation dari disertasi mereka yang menurut Helene Schutzunberge memiliki kualitas dan inovasi tinggi serta menawarkan solusi bagi persoalan keanekaragaman hayati, transportasi, dan ekonomi Indonesia[3] dan fakta mengenai bangunan Arab Pearl Tower yang akan menjadi gedung tertinggi di Sharjah Uni Emirat Arab didesain oleh warga negara Indonesia lulusan Ecole Centrale Paris Perancis yang kini bekerja di negara petro dollar Uni Emirat Arab. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan anak bangsa tidak kalah dan sudah mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Namun bagaimana kesiapan pemerintah dalam memfasilitasi anak bangsa dalam mengaplikasikan ilmu yang telah mereka pelajari agar dapat bermanfaat dan berguna bagi dan di negeri ini?

            Bagaimanapun ketidaksiapan negeri ini dengan beribu masalah yang sudah ada, sedang berkembang dan bahkan yang akan muncul, tidak sepantasnya jika hal ini yang dijadikan alasan untuk berpindah keluar negeri. Sependapat dengan apa yang dikatakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso “Keterbatasan sarana mestinya menjadi tantangan untuk tetap bekerja.” Apalagi jika kesempatan belajar di luar negeri didapat dari beasiswa yang berarti dibiayai oleh pemerintah, sudah seharusnya pulang dan ganti mengabdi guna kemaslahatan tanah kelahiran. Semangat anak bangsa  intelektual yang nasionalis !!


Categories: Refleksi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Monggo komentarnya mas, mbakyu :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: