Pancasila dan Potret Kehidupan Bangsa


Pagi yang indah itu di temani hembusan angin mengantar sebuah benda yang sangat di hormati dan di junjung tinggi di negara ini ke puncak tiang tertinggi, diiringi instrumen dari para paduan suara yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, semua mata tertuju pada sang saka dengan tangan hormat dan berdiri tegak.

Acara upacara penaikan bendera Merah Putih sangatlah hikmat. Setelah pengibaran bendera merah putih, tibalah saatnya Pembina upacara mengucapkan 5 sila Pancasila yang diikuti oleh peserta upacara, apakah pancasila hanya sekedar ucapan belaka tanpa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ?

Apa yang terjadi di Negara ini ? Apakah mengucapkan pancasila hanya dilakukan pada hari senin pada saat pengibaran bendera merah putih ?

Bendera merah putih adalah simbol dari identitas bangsa Indonesia yang seharusnya ditanamkan dan dipegang teguh dalam hati, bukan hanya sekedar syarat dan ketentuan yang dilakukan tanpa di amalkan di kehidupan sehari – hari. Ini mencerminkan sudah lunturnya ideologi bangsa yang menjunjung tinggi pancasila.

Indonesia adalah Negara kesatuan yang terbentuk dari sabang dan merauke, penuh dengan bermacam – macam suku, adat-istiadat, beraneka ragam  bahasa. Semua itu dipersatukan oleh sebuah asas yang kita kenal dengan Pancasila. Pancasila tidak hanya sebagai simbol atau hanya sekedar lambang, tetapi pancasila memiliki arti lebih. Negara Indonesia adalah Negara yang dilandasi pancasila, didasarkan ideologi pancasila  yaitu, mendirikan sebuah negara hanya semata-mata untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera, makmur dan sentosa. Menyatukan semua elemen yang berbeda beda untuk menuju pada kesepakatan, dan kesepakatan itu yang di junjung tinggi untuk berlangsungnya sebuah Negara yang damai dan saling menghargai satu sama lainnya. Bahwa tujuan tersebut adalah “kontrak sosial” antara Negara dengan rakyatnya, dan Negara sebagai organisasi yang mengatur, berkewajiban untuk membawa rakyatnya kepada tujuan yang dimaksud, tanpa menghilangkan hak-hak rakyatnya sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, karena rakyatlah yang memiliki negara, bukan negara yang memiliki rakyat. Untuuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya Etika dan Filosofis dari sikap dan perilaku yang dicerminkan oleh rakyat Indonesia. Etika dan filosofis itu didasarkan dan dilandaskan dari kelima sila dalam pancasila. Ini bukan hanya sekedar lima sila, ini adalah sebuah ilmu pengetahuan, nilai dan implementasi dari tingkah dan laku warga Negara Indonesia. Dalam pancasila, manusia Indonesia adalah manusia yang monopluralis, menurut Prof. Notonegoro manusia monopluralis diartikan sebagai makhluk yang memiliki tiga hakikat kodrat, yakni: (a) Sifat kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; (b) Susunan kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk yang tersusun dari dua unsur, yaitu raga dan jiwa; (c) Kedudukan kodrat, yaitu manusia sebagai makhluk yang berdiri sendiri dan makhluk ciptaan Tuhan YME. Dari ketiga hakikat kodrat tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia Indonesia ialah makhluk yang tidak bias hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari makhluk lainnya dan diciptakan oleh Tuhan yang maha esa seperti pada sila pertama Pancasila, “ Ketuhanan Yang Maha Esa “. Pancasila adalah sistem pengetahuan, maksudnya pancasila didasarkan pada pengamatan, pengalaman, dan pertimbangan atas dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai paradigma pembangunan, artinya nilai-nilai dasar pancasila secara norma menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi atas pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka benar apabila pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara termasuk dalam melaksanakan pembangunan Pancasila adalah sistem nilai atau estetika yang merupakan seperangkat nilai – nilai yang mengatur tentang kehidupan masyarakat. Dan ini membuktikan bahwa pancasila bersifat dinamis, yaitu dapat mengikuti perkembangan jaman di era globalisasi seperti saat ini. Tapi pada kenyataannya mayoritas warga Negara Indonesia banyak yang meninggalkan esensi dari nilai – nilai pancasila itu sendiri. Banyaknya kriminal, bersikap dan mengikuti gaya hidup orang luar negeri yang bebas dan tidak terikat pada asas dan nilai – nilai dari dasar Negara. Ini membuktikan krisis identitas bangsa Indonesia di era Globalisasi.

Indonesia itu Negara yang kaya baik dari segi sumber daya alam maupun dari sumber daya manusia. Di dalamnya terdapat aspek – aspek yang dapat menunjukkan siapa Indonesia. Aspek tersebut ialah Identitas Indonesia, Rakyat Indonesia adalah Identitas yang dapat mengantarkan nama Indonesia di kancah Internasional serta dapat membuka mata warga Negara asing dan membuat mereka kagum akan nilai – nilai positif akan kehebatan Indonesia. Inilah Indonesia, Negara yang terbentuk dari sabang sampai merauke yang di dalamnya terdiri dari beraneka ragam bahasa, warna, suku, dan istiadat. Itu adalah salah satu esensi dari pancasila, jika hasil kesepakatan tersebut dijadikan acuan maka tak ada yang membedakan di antara mayarakat Indonesia.

Seseorang yang lahir di tanah air Negara Indonesia dan memiliki keturunan orang tua di Indonesia, disebut dengan warga Negara Indonesia atau WNI, dimanapun dan kapanpun seorang warga Negara Indonesia berada dalam ruang lingkup Negara Indonesia, seorang WNI mesti mau mengamalkan dan memegang teguh ideology dari pancasila. Bukan hanya sekedar mengucapkan kelima sila pancasila pada saat upacara penaikan bendera setiap hari senin saja, sungguh lucu sekali negeri ini, sebuah ideologi yang dulu dibanggakan bahkan menyatu dengan diri seorang warga Negara Indonesia , serta sebuah pedoman yang menunjukkan arah kemana Negara ini harus “melangkah”. Tapi, kenyataannya sekarang pancasila hanyalah sebuah 5 sila yang dianggap sebagai tulisan belaka, ini terbukti pada mayoritas pemuda Indonesia tidak mengamalkan kelima sila tersebut ke dalam kehidupan sehari – hari, sikap gotong – royong yang sudah luntur, tawuran marak terjadi di kaum pelajar, sopan dan santun kepada orang yang lebih tua sepertinya sudah menjadi sejarah, dan sikap individualis yang tinggi di kota – kota besar seperti Jakarta. Tidak hanya pada kalangan pemudanya saja, lunturnya ideologi pancasila juga jelas tecermin pada wajah – wajah pemegang kekuasaan di Negara ini, “ Wakil Rakyat, kumpulan orang – orang hebat, bukan kumpulan teman – teman dekat, anda dipilih bukan di lotre “ salah satu penggalan lagu dari musisi terkenal Iwan Fals, dari lirik itu memang ada benarnya, bahwa nepotisme, kolusi, dan korupsi sudah menjadi darah daging bahkan terhadap pemimpin dan pemegang kekuasaan tertinggi di Negara ini. Pelanggaran HAM yang sudah menjadi makanan sehari – hari , penegakan hokum yang kurang di Negara ini sangatlah buruk, apabila orang miskin yang melakukan pelanggaran hokum, akan di hokum sesuai pasal dan undang – undang yang berlaku. Tapi, apa yang terjadi ketika seseorang yang mempunyai kedudukan dan tahta, melakukan pelanggaran bahkan yang lebih berat dan merugikan banyak orang seperti korupsi, ada kompesansi khusus yang bias meringankan pelanggaran yang sangat berat tersebut. Pemegang kuasa, tahta, harta, dan keturunan di Negara ini adalah “ Raja “, sungguh lucu sekali negeri ini.

 

Ditulis oleh : Derby Aditya

 

Categories: Refleksi | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Pancasila dan Potret Kehidupan Bangsa

  1. HAM itu kan Hak Anak eMas boy hahaha *ninggalin jejak, coba di lihat citizindo.co.cc masbos

Monggo komentarnya mas, mbakyu :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: