Peran Jejaring Sosial Dalam Transformasi Masyarakat Menjadi Individu Beridentitas Nasional


Di era perkembangan teknologi yang sangat pesat kini, informasi menjadi suatu “barang dagang” maya yang juga menjadi alasan mengenai bagaimana teknologi makin dikembangkan hingga ke tingkat yang “irrasional”. Dari keterangan tersebut manusia bisa melihat bagaimana informasi adalah hal yang vital di kehidupan kini. Bahkan, secara disadari atau tidak, informasi menjadi makanan tiga kali sehari (atau bahkan lebih) menyaingi kebutuhan premier individu di mayoritas kalangan masyarakat mulai dari para pebisnis, karyawan, akademisi, pelajar, hingga anak-anak dibawah usia 10 tahun di banyak negara.

Informasi kini memiliki banyak bentuk, bisa berupa gambar, suara, video, dan teks, serta gabungan semuanya berupa multimedia. Media yang saat ini sedang menjamur dalam perannya menyalurkan informasi adalah jejaring sosial (social network). Ada beberapa contoh jejaring sosial yang dikembangkan dalam tujuh tahun belakangan ini, seperti: Yahoo Mailing List (milis), Facebook, Twitter, LinkedIn, Tagged, Plurk, Hi5 dan lain sebagainya. Untuk mekanismenya sendiri, setiap individu yang ingin bergabung harus memiliki akun masing-masing, lalu melengkapi data-data profil diri sendiri, menambah teman-teman yang juga memiliki akun di jejaring sosial yang sama, dan setelah itu, individu bisa melakukan banyak kegiatan seperti berbincang via chat, bertukar gambar, video, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan dengan bebas hampir tanpa batasan dan yang paling penting, jejaring sosial bersifat gratis sehingga setiap kalangan masyarakat dapat memanfaatkan sarana tersebut.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang terjadi secara eksponensial tersebut, terjadi penurunan yang signifikan mengenai penanaman nilai-nilai identitas negara dalam diri masyarakat Indonesia. Hal ini tidak dimaksudkan untuk melabel secara umum bahwa semua masyarakat Indonesia memiliki penurunan kualitas identitas tersebut. Namun, secara regresi bisa dikatakan bahwa penurunan tersebut benar terjadi. Banyak masyarakat mayoritas di kota-kota besar baik sadar maupun tidak, memiliki sifat hedonisme yang tinggi, mempunyai anggapan bahwa liberalisme bisa diterapkan di negara Indonesia dengan kurang menghargai aplikasi norma-norma yang sudah tertulis maupun tidak tertulis di negara Indonesia ini.

Dengan begitu banyaknya dan begitu bebasnya informasi mengalir dengan sarana-sarana yang telah disediakan secara gratis dan memiliki kemudahan akses yang luar biasa seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Lalu apakah ada  kemungkinan bahwa media sosial didunia maya tersebut bisa menjadi salah cara untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia dalam mengakses identitasnya sebagai warga Indonesia? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya individu masyarakat memiliki kesadaran dahulu sebelum mau bertindak untuk menerapkan nilai-nilai yang menjadikan dirinya individu beridentitas nasional bangsa Indonesia karena niat adalah langkah awal untuk menjadikan seseorang mau bertindak selanjutnya.

Dari observasi sederhana yang berhasil dilakukan dari salah satu jejaring sosial yang memiliki pengguna terbanyak pada saat ini, yaitu Facebook, diketahui bahwa masyarakat Indonesia pengguna jasa jejaring sosial saat ini gemar untuk mengeluarkan pendapat dan mendapatkan perhatian dari pihak lain berupa komentar-komentar yang diberikan ataupun rating yang diberikan atau istilah yang digunakannya yaitu “Like”. Maka dari itu, pengguna (atau user) mulai mengeksplorasi diri atau kegiatan atau kejadian yang pernah terjadi dalam kehidupannya sebagai bahan yang diperkirakan bisa memancing komentar atau pendapat pengguna lainnya. Dari sana, timbullah perasaan kepercayaan diri akan popularitas yang meningkat. Sebagaimana alasan sebelumnya, yaitu bagaimana cara memanfaatkan jejaring sosial untuk meningkatkan kualitas diri sebagai individu beridentitas nasional, dari survey sederhana tersebut sistem viral marketing bisa diaplikasikan dari pola pikir (atau mindset) tersebut. Untuk aplikasinya, akan diberikan satu contoh kasus sebagai berikut: Individu A memiliki akun di salah satu jejaring sosial, anggap saja Facebook. Dia memiliki teman secara keseluruhan berjumlah 1000 orang. Anggap semuanya adalah masyarakat Indonesia. Dari sana, dia selalu meng-update status atau note setiap Hari-Hari Besar Negara Indonesia, membagikan (atau share) link-link website yang berkaitan dengan Hari-Hari Besar tersebut lengkap dengan renungan untuk teman-teman yang membacanya mengenai apa makna dalam memperingati Hari-Hari Besar tersebut. Dari sana, dia mendapat respon baik dari teman-temannya dan dia mendapatkan apa yang disebut keadaan populer di Facebook sebagai Top News. Setelah itu, orang-orang yang melihat keadaan tersebut merasa terdorong untuk membuat status atau note yang berkaitan dengan Hari-Hari Besar Indonesia lainnya, lalu hal itu berkembang hingga ke kebudayaan Indonesia, seperti penggunaan batik, pengetahuan tentang negara beserta warisannya. Dengan teknik viral marketing itu, masyarakat Indonesia memiliki wawasan tambahan mengenai bangsa Indonesia berikut masyarakat dan permasalahannya. Dengan keadaan pikiran terbuka tersebut (atau openminded), masyarakat akan mengenal bagaimana identitas negara yang sebenarnya, keadaan yang terjadi di negara, warisan budaya dan adat yang luar biasa dan patut dibanggakan, sehingga mendorong setiap individu untuk meningkatkan kualitas diri yang beridentitas nasional. Identitas nasional sebagai warga Indonesia.

Dengan sistem yang telah disebutkan sebelumnya, hal itu berkemungkinan bisa berhasil, terbukti dengan semakin banyaknya grup-grup maya ataupun weblog yang terbentuk sebagai bentuk aksi masyarakat untuk turut bangga sebagai warga Indonesia dengan beragam sudut baik dibidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.

Dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya, yang terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk mau membuka mata mengenai keadaan negara dan turut membantu dalam pembangunan bangsa dengan kemampuan dan wawasan masing-masing. Dan yang terpenting adalah aksi tersebut benar-benar diterapkan sebagai alasan awal, yaitu untuk meningkatkan kualitas individu beridentitas nasional. Apabila kini sudah banyak informasi-informasi yang mendorong peningkatan kualitas individu beridentitas nasional,yang dibutuhkan sekarang adalah aplikasi dari informasi tersebut hingga mencapai suatu pembentukan yang permanen dalam diri masyarakat Indonesia sekarang dan kedepannya.

Ditulis oleh: Hesty Dwi Utami

Categories: Refleksi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Monggo komentarnya mas, mbakyu :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: